home
Home

PlayBook: Beyond Literature

Friday, 09 March 2012

Bandung, 22/02/2012

Sore itu hujan turun menghapus debu dijalan, teman-teman dari komunitas yang beragam di Kota Bandung sedikit demi sedikit bermunculan menghadiri acara bookPlay yang digelar oleh UNKL347 di salah satu bangunan gudang di kompleks militer Kodam Siliwangi, di pinggir rel kereta api.

Suasana di sekitar venue yang sedikit menyeramkan khas bangunan militer kuno peninggalan Belanda yang di sana-sininya ditumbuhi lumut dan ilalang, ternyata sangat kontras dengan U&KL, sebuah ruang alternatif yang diluncurkan oleh UNKL347 sore itu. Meski eksteriornya tak banyak dipoles, namun interior gudang telah disulap menjadi ruang galeri yang berkualitas, lengkap dengan pencahayaan yang baik dan sistem display yang canggih. Us & Kind of Life, dari situlah abriviasi U&KL lahir. Ia memberikan ruang untuk bersantai, berkarya, membentuk komunitas, bersosialisasi, atau apapun yang merepresentasikan gaya hidup komunitas yang selama ini mendukung kehadiran UNKL347 dengan berbagai lini-produknya. U&KL adalah upaya pembuktian bahwa sebuah ‘produk’ merupakan representasi dari gaya hidup masyarakat dan komunitas di sekitarnya, bahwa baju, sepatu, dan meja-kursi bukan sekedar berfungsi untuk melindungi tubuh dan melayani manusia, tapi juga menyuarakan ‘siapa’ penggunanya. Serangkaian produk interior telah mereka luncurkan di bawah bendera U&KL ini.

Acara perdana yang menjadi debut U&KL sebagai sebuah ruang alternatif adalah sebuah pameran book art, di mana buku tidak dilihat secara literatur, tapi digunakan sebagai media ekspresi. Seniman yang terlibat di sini bermain-main dengan berbagai proses yang berhubungan dengan buku, seperti yang terlihat pada karya Vitar lenology yang menjilid (hand binding) 64.000 halaman buku kecil hingga membentuk naga yang meliuk-liuk (“Dragon Book”, 2012), berkebalikan dengan Keni Soeriaatmadja yang memilih untuk ‘menghancurkan’ buku-buku lamanya dengan cara memotong-motong lembaran kertas dalam buku untuk membentuk ruang tiga dimensional (“Ascending/Descending”, 2012) dan membentuk serangkaian kutipan kata (“Lights/Darkness”, 2012). Dewi Aditia dengan cerdas memanfaatkan mainan boneka binatang plastik menjadi buku akordeon untuk karyanya yang berjudul “Black Animal Books” yang bersanding dengan“Black Bile”, sebuah buku yang ia buat dengan teknik simple-cut. R.E.Hartanto, yang karyanya sudah banyak dilihat di berbagai pameran seni baik di dalam maupun di luar negeri, kali ini menampilkan drawing berwarna yang ia gambar di atas 12 panel kayu yang disusun menjadi lembaran buku akordeon, menampilkan sebuah cerita unik berjudul ‘Teater Desa’. Yang membuat pameran ini menarik adalah, meski buku ditampilkan di luar bentuk klasik yang umumnya kita temui, namun kita tetap dapat menemukan ‘kisah’ di dalamnya. Dalam pameran ini kita bisa melihat bagaimana sebuah cerita tidak hanya dapat dirangkai dengan kata-kata atau teks, tetapi juga oleh bangun rupa.

Untuk menyambut para undangan yang hadir sore itu, sebuah atraksi live cooking dari Chef Downey turut memeriahkan acara. Pengunjung pembukaan pameran senirupa yang biasa dipuaskan oleh sekeranjang keripik singkong kini dimanja dengan sajian Grilled Herbs & Spicy Lambs sebagai menu pertama, dan hot dog yang diisi daging kambing muda dengan side dish pasta sebagai menu kedua. Lengkingan nyaring Hammond organ yang dibawakan oleh Lucas diiringi hentakan drum dari Stonecoldlay yang tergabung dalam ‘The Mission: Possible’ menambah kemeriahan hari yang semakin sore semakin hangat dengan lagu-lagu jazz standard berirama hardbop. Tampak hadir beberapa teman dari komunitas musik independent, kawan-kawan penggiat distro dan fashion di Bandung, seniman, crafter, dan komunitas kreatiflainnya. Suasana yang akrab dan santai ini seperti menggaris bawahi apa yang ditawarkan oleh U&KL, it’s for us, and our kind of life.

by Keni Soeriaatmadja

 

Copyright © UNKL347

1996 - 2017